Renni Suhardi

RENNI - SRI HARJATI SUHARDI. This blog was created to share my thought, my view and my wish. I will attach my private picture collection. I I would like a comment and suggestions.

Name: Renni Suhardi
Location: Bandung, Indonesia

Saya bekerja sebagai Guru dan Peneliti di bidang Ilmu Hayati. Spesialisasi saya adalah mikrobiologi dengan aplikasi ke bidang Lingkungan dan Energi. Merasa bahwa saya masih punya banyak waktu dan tenaga untuk dibagi, saya tergabung dalam Rotary Club Bandung Utara (RCBU) District 3400 dan mengurusi LSM Gerakan Masyarakat Peduli Lingkungan (GEMA PELIKAN). Kalau masih ada waktu, saya suka mencoba banyak hal-hal baru, misal bermusik, merajut (knitting) dan menulis di Blog (karena tidak punya kemampuan menulis di koran!! :)).

Saturday, April 18, 2009

Moody Feeling: do Aware and Let's Fight it

Minggu pagi acara brunch (breakfast and lunch) di Eastern,IP, dengan Mariani dan Roy sekeluarga. Seperti biasa kalau ngobrol dengan mereka tidak pernah hanya sekedar "ngalor ngidul" tanpa isi. Aku selalu mendapatkan sesuatu yang berharga, baik untuk diriku sendiri maupun aku share dengan orang lain. Salah satu topik yang langsung membuat aku membuka komputer dan menulis adalah MOODY FEELING. Selanjutnya aku sebut "moody" saja.

Sudah beberapa hari aku sedang mengeksplor isue ini, terakhir karena "gadis kecil ku" juga mengatakan bahwa dia itu orangnya moody banget! baik penilaian dirinya sendiri maupun orang lain. Oops.. not another one! itu yang langsung di dalam benak ku. I have to do something.
Mengapa? Kasus lain, satu orang mahasiswa bimbinganku gagal menyelesaikan Tugas Akhirnya, yang akhirnya tidak saja merugikan dirisendiri tapi juga merugikan pemberi project, pembimbing dan jurusan. Faktor utama kegagalannya adalah tidak bisa mengatasi Moody nya ini. Banyak mahasiswa mempunyai rentang nilai yang besar antara ujian tengah semester, Ujian akhir dan Quiz. Saat aku panggil dan aku tanyakan, alasannya "aku waktu itu sedang moody banget Bu. Gimana dong?". Wah..! Beberapa pekerjaan juga terlantar karena pada saat-saat genting orangnya menghilang. Alasannya "maaf Bu, mood ku tidak enak. habis di rumah sih bla bla bla...!" Di jalanan? Mobilku di tabrak dari orang lain dari samping dan malahan dia yang marah. Aku diamkan dulu dan akhirnya dia minta maaf dengan mohon maklum "Maaf ya, aku memang sedang ndak enak moodnya, jadi bawaannya kesel" oops.. kenapa aku harus ikut menanggung rugi? Satu contoh lagi, anak ABG sekarang jika sedang bete bertengkar dengan pacarnya maka akan curhat pada Ibu nya, sambil marah-marah dan berlangsung terus sampai betenya hilang. Sementara itu orang tua harus dengan sabar (kadang berhari-hari) "kena getahnya" dan menunggu betenya hilang. Jaman saya dulu, ya silahkan bete sendiri, orang tua tidak ada urusan :-)

Dari diskusi pagi ada beberapa hal yang kami bicarakan. Kalau kita perhatikan, tanpa menghitung dengan statistik, anak muda sekarang cenderung lebih moody daripada saya seumur mereka. Beberapa hal yang kami coba identifikasi adalah
Satu, Keluarga sekarang cenderung keluarga kecil sehingga anak terbiasa mendapatkan semua untuk dirinya sendiri. Mereka kurang berbagi seperti kami jaman dulu keluarga dengan 5 anak dan harus selalu berbagi. Akibatnya, anak merasa sangat comfortable. Begitu zona comfortnya diganggu, maka dia akan marah atau moody.
Kedua, Ibu bekerja sudah sangat umum. Baik karena pilihan karir atau karena terpaksa. Akibatnya mereka cenderung tidak sabar (atau telaten) untuk mengajari beberapa hal penting untuk disiplin anak, misalnya anak makan. Kalau anak makan dan tidak habis, dulu kami akan harus menghabiskan, tidak peduli berapa lama harus Ibu menunggu. Sekarang ini, maka disuruhnya cepat pergi saja, makanannya ditinggal atau dihabiskan Ibunya.

Mengapa aku sangat concern dengan moody ini? aku pernah melalui hari-hari yang sulit karena sifat moody saya yang sangat kuat, yaitu pada saat merantau sekolah ke Inggris. Di Indonesia, aku adalah anak perempuan pertama dan di rumah mempunyai zona comfort yang paling luas. Maklum, anak perempuan pertama, defautl-nya adalah kesayangan ayahnya (umumnya!). Sifat moody ini kubawa ke dormitory, di rumah kontrakan dan di laboratorium. Lingkungan baru dan sama sekali berbeda membuat aku "panik", semua terasa tidak bersahabat. Ini aku rasakah perlahan-lahan sampai akhirnya saya merasa bahwa aku harus melakukan semuanya sendiri. Teman dekat (sekali) saja yang mau sharing. Sahabatku tidak tahan dengan sifat moody ku sampai dia memutuskan pindah tempat kost menjauhi aku. Sampai suatu hari rekan kerja ku Anas Fauzi mengajak berbicara empat mata. Intinya, sebagai rekan kerja di lab yang setiap hari berjumpa, dia merasa sangat terganggu dengan sifat moody ku. Banyak pekerjaan, yang harus dilakukan bersama gagal karena pada saat harus dikerjakan saya moody. Dia minta aku mulai bertoleransi dengan lingkungan, mulai bisa menerima bahwa aku harus menyesuaikan diri dengan lingkungan dan bukan sebaliknya. Dan yang lebih mengena, Anas katakan bahwa moody adalah salah satu ciri pribadi egois. kalau aku mau tetap pelihara sifat ini, jangan harap aku meraih prestasi di masyarakat. Disuruhnya aku berkarya saja di gunung, sendiri, yang tidak ada orangnya. Aku masih ingat ingat pada waktu itu mukaku merah padam, karena malu dan marah (tentu saja ada penolakan sebagai reaksi yang pertama).

Pagi ini Mariani sharing bahwa pada saat rekrutmen di perusahaan tempat dia bekerja, nilai dll menjadi pertimbangan kedua. Pertama adalah wawancara langsung untuk melihat sejauh mana kestabilan emosi calon pegawai, termasuk mengidentifikasi apakah dia moody atau tidak. IQ bukan menjadi pertimbangan nomor satu lagi.

Tidak mudah menghilangkan sifat moody. Aku beruntung bahwa saat aku bertekad untuk memperbaiki diri, aku banyak dibantu oleh teman-teman dan sahabatku (Terima kasih sahabat, dan sampai hari ini kami masih menjadi sahabat di dalam suka dan duka. Terima Kasih Tuhan). Pencarian yang panjang, memberikan aku kesadaran bahwa moody suatu bentuk ketidakmampuan kita mengendalikan diri. Dengan demikian emosi kita diatur atau ditentukan oleh faktor eksternal, misalnya orang lain.

Mengapa kita tidak coba ajarkan kepada anak-anak kita Mind Management.? The mind is a wonderful servant but a terrible master. Winston Churchill mengatakan "The price of greatness is responsibility over each of your thoughts". Dengan demikian, kita harus mengendalikan mindsetting yang kita miliki saat ini atau masih dicari. Remember, the mind truly is like any other muscle in your body. Use it or Lose it.

Aku tidak akan menuliskan secara rinci kiat-kiat untuk membantu anak, keponakan, adik kita untuk melatih "mind management" ini karena banyak pakar yang menawarkan jurusnya. Saya hanya ingin "mengingatkan" jangan sampai generasi yang akan datang di dominasi oleh Moody person.

Last but not least, do realize that mind management is the essence of life management.

(Inspired by Yogi Raman in Robin Sharma book's)

1960's to 2009 --> What Have We Got?

Minggu pagi waktu yang tepat untuk jalan-jalan dan hunting ke bukit di belakang rumah. Masih terlalu pagi dan warung kopi masih buka sedikit saja, tapi sudah banyak yang "antri" untuk menikmati secangkir kopi.
Dengan senjata yang siap aku bidikkan (EOS D400) aku berdiri membelakangi mereka. Sebetulnya untuk mencuri dengar, apa sih yang mereka bicarakan.
Banyak.. akan aku tuliskan dalam blog ini mulai besok.

Yang paling menyentuh adalah ketidakmengertian mereka akan hasil pemilu.
Ah aku malas sebetulnya bicara pemilu. Do I care? stop, aku tidak akan membahas ini.
Aku hanya akan kaitkan dengan diskusi kemarin siang (menjelang sore), bersama "Roy" Iwan Pranoto di Warung Soto Kudus, Jalan Gandapura. Intinya "Communication". That's what we lack of. (again, I will share our thought in my blog later)

This thought has go around-around my mind all the time, until this morning I switch on my computer and all of sudden hit this song. I wrote down what Simon and Garfunkel said to open their show in 1969 (I was 5 then!)

The meaning of the song quoted from Art Garfunkel and Paul Simon:
Art Garfunkel: "Inability of people to communicate with each others.. and.. not particularly internationally, but especially emotionally.. so that what you see around those people who are unable to love each others."

Paul Simon: "A societal view of the lack of communication."

I share the lyric with you guys. My friends, colleagues and acquaintances who care for our people. Who are expecting and nailing deep their positive mind that we will be better. I (personally) never think that we (my beloved country) made a mistake. For me, There is no mistake, it's a lesson!!

The Sound of Silence Lyrics
Artist(Band):Paul Simon

Hello darkness, my old friend,
I've come to talk with you again,
Because a vision softly creeping,
Left its seeds while I was sleeping,
And the vision that was planted in my brain
Still remains
Within the sound of silence.

In restless dreams I walked alone
Narrow streets of cobblestone,
'Neath the halo of a street lamp,
I turned my collar to the cold and damp
When my eyes were stabbed by the flash of a neon light
That split the night
And touched the sound of silence.

And in the naked light I saw
Ten thousand people, maybe more.
People talking without speaking,
People hearing without listening,
People writing songs that voices never share
And no one dare
Disturb the sound of silence.

"Fools" said I, "You do not know
Silence like a cancer grows.
Hear my words that I might teach you,
Take my arms that I might reach to you."
But my words like silent raindrops fell,
And echoed
In the wells of silence

And the people bowed and prayed
To the neon god they made.
And the sign flashed out its warning,
in the words that it was forming.
And the sign said, "The words of the prophets
are written on the subway walls
And tenement halls."
And whisper'd in the sounds of silence.

Thursday, April 16, 2009

Masak Memasak Syukuran

Achie dan Suraya sudah lulus.

Saturday, March 21, 2009

Gema Pelikan dan Pelatihan Sampah

hari ini Gema Pelikan kemb ali melakukan pelatihans sampah di Biara Karmel

Friday, January 23, 2009

Long weekend di Bandung

Tuesday, January 20, 2009

Service above self

SERVICE ABOVE SELF, ini adalah motto dari Rotary Internasional, dan tentu saja digunakan di seluruh rotary club. Pemahaman dan pemikiran pelayanan seperti ini akan mematahkan diskusi yang kerap timbul bahwa memberikan bantuan atau bakti sosial berdasarkan "rasa kasihan" adalah mind-set yang salah.

Dalam salah satu diskusi, Romo Agus dari Indramayu mempertanyakan "apa artinya hidup?" mengapa kita hidup dan ada. Disampaikan oleh Rm Agus bahwa hidup yang berarti adalah hidup yang menghidupkan. Dalam diskusi disimpulkan bahwa hidup kita harus menjadi kehidupan untuk yang lain, bisa orang lain, mahluk lain, lingkungan hidup (yang mulai rusak) dll.

Sunday, January 18, 2009

Terlambat dan Terlambat......

Setiap semester perkuliahan, akan selalu disampaikan tugas dan kewajiban mahasiswa selama mengikuti kuliah Mikrobiologi Lingkungan dan Bioremediasi. Yang pasti tugas pasti ada, minimal 2. Pemberian tugas juga tidak pernah semena-mena. Satu semester dibagi menjadi dua, sebelum UTS dan sebelum UAS, maka masing-masing ada 7 minggu. Jadi kalau tugas diberikan di awal pertengahan semester, masing masing punya waktu 6 minggu untuk menyelesaikan tugas. Tugas yang diberikan sudah dihitung dan dipertimbangkan bahwa mahasiswa juga menerima tugas dari Dosen yang lain. jadi, 6 minggu cukup. Dengan pertimbangan ini maka waktu pengumpulan tugas sudah dipastikan tanggal dan jam-nya, lewat dari itu tidak diberikan toleransi apa-apa. Ditambah lagi bahwa tugas ini adalah WAJIB dan masuk dalam penilaian akhir.

Mengapa "tiada maaf bagimu?" Dengan mempertimbangkan bahwa 90% mahasiswa bisa mengumpulkan "on-time" berarti beban tugas yang diberikan adalah realistis. Mengapa selalu ada 5-10% mahasiswa yang terlambat dengan alasan (a) Sakit, (b) Printernya rusak, (c) filenya kena virus, (d) angkot-nya ngetem, kehujanan, motornya mogok.
kalau alasan-alasan ini diterima (yang kebenarannya diragukan) maka artinya saya tidak menghargai dan menghormati mahasiswa yang dengan segala daya upaya dan effort berusaha untuk mengumpulkan tepat waktu. Maka, kalau dengan nilai tugas NOL menyebabkan nilai akhir yang diterima mahasiswa turun satu grade, itu adalah konsekuensi yang harus ditanggung.

Lebih luas lagi, kebiasaan terlambat ini jika dibiarkan akan merambat kemana-mana dan yang pasti merepotkan orang lain. Kita sering datang tepat waktu untuk rapat, dan baru mulai 30 - 45 menit karena menunggu yang belum datang. Untuk mengeluh dan protes sudah tidak musim lagi. Beruntung sekarang ada notebook, netbook yang bisa membantu membunuh kekesalan karena menunggu. Beberapa teman atau kolega "menyarankan" datang terlambat saja karena yang lain juga pasti terlambat. Sebaliknya, aku menyarankan untuk tidak ikut-ikutan mendegradasi diri dan menambah jumlah orang yang "senang" terlambat. Malahan ada seorang kolega yang menganggap bahwa "being late" itu sudah takdirnya. Pak B ini (sebut saja begitu) menyampaikan beberapa contoh bahwa betapa pun di berusaha untuk tidak terlambat akan selalu ada faktor X, Y, Z yang membuatnya akhirnya terlambat juga. Agak sulit untuk diterima tetapi beliau begitu insist bahwa ini adalah takdir.

Kemarin pagi terjadi tabrakan di jalan Tubagus Ismail, yang melibatkan 2 motor dan mobil. Kurang beruntung, kita kena juga dampaknya, macet! dari ribut-ribut terlontar "ya saya terlambat jadi buru-buru".. lagi-lagi terlambat menjadi biang keladi. Kenapa ya kalo tidak terlambat? Kenapa tidak bangun lebih pagi? Kenapa tidak disiapkan hari sebelumnya? Ini karena masih populernya "kumaha isuk" atau "mañana"...

Bukan Sekedar Nama Panggilan

Sudah menjadi kebiasaan diberbagai tempat kita dipanggil bukan dengan nama panggilan kita. Aku dipanggil "Mamanya Noorman" oleh orang tua di sekolah anakku. Berkali-kali aku mencoba memberitahukan dengan mengatakan "nama saya Renni", tapi tidak pernah ada perubahan. Bahkan sampai pindah sekolah pun sama sampai akhirnya aku menyerah.

Sepotong "Fruit Cake"

3 Januari 2009. Aku dan keponakan2ku menunggu matahari terbit di Gunung Bromo. Kami sengaja datang pagi-pagi untuk mendapatkan tempat terbaik mengambil foto. Sambil menunggu, aku tiba-tiba mendapatkan SMS dari salah satu keponakanku yang cantik tapi sedang galau. Ditulisnya "Tante, kenapa kok perjalanan hidupku ndak seperti orang lain, yang paling tidak biasa-biasa saja?". Duh, aku berfikir sejenak. Apa yang harus kutulis. Dalam hati aku sering mempunyai pertanyaan yang sama dan sekarang aku harus paling tidak memberikan sedikit saja balasan. Kali ini aku sebagai "tantenya" yang artinya dari umur lebih tua, diharapkan memberikan pencerahan.

Aku teringat Xmas cake yang selalu kubeli pada waktu aku di Canterbury dan Dresden. Di Inggris namanya Xmas Cake, sedangkan di Dresden namanya Stolen. Xmas cake adalah kue bolu yang diisi/dicampur dengan berbagai macam buah kering dan kacang-kacangan. mungkin ada 5 - 7 macam. Jadi pada saat kita mendapatkan sepotong Xmas cake, kita tidak pernah tau potongan itu banyak kismisnya, atau sukade atau banyak nut-nya, atau malah cuma 1 kismis dan kue bolu saja. Nah apapun yang kita dapat, maka kita harus menerimanya. Ku balas SMSnya dengan mengatakan "Non, apa yang harus kita terima sekarang, sama dengan jatah kita pada saat Xmas cake dibagikan. Kita tidak bisa mengganti dengan kue yang lain karena ingin kismis yang lebih banyak, atau karena ingin nut yang lebih banyak. Namun apapun yang kita dapatkan, itu adalah Xmas cake yang harus kita nikmati. Mengapa kita hanya mendapatkan 1 kismis dan selebihnya nut yang keras dan gosong? Hanya Yang Maha Kuasa yang tahu. tapi ingat saja, semua akan indah pada waktunya". Untuk sementara aku menuliskan itu saja. SMS telah kukirim tapi aku tetap berfikir. Alangkah mudahnya mengatakannya.. menata hati dan pikiran untuk menerima .. tidak semudah itu... SMS ku dibalas singkat saja " Ya Tante, terima kasih. Nanti kita bicara lagi".. Dan aku kembali menunggu matahari terbit di Gunung Bromo. Melayangkan pikiranku ke hal lain lagi...............

Friday, December 26, 2008

Musibah, Karma atau Rencana Tuhan

24 Desember 08 seharusnya aku berbelanja kado natal yang masih belum sempat kubeli. Aku pun janji untuk betemu dengan sabahatku SMA St Angela nDe dan Vero, Akupun berencana mengunjungi Dr. gigi untuk menambal gigiku yang berlubang. Dan minggu depan aku akan mengunjungi anak-anak dan suamiku yang berlibur di Malang. Namun kecelakaan di lapangan squash itu menggagalkan semua rencanaku. Bola squash itu nyasar ke mata kananku dan melukai kornea. Dokter memutuskan aku harus bed-rest minimal 1 minggu. Tidak ada pilihan lain. Luka dalam adanya sedikit pendarahan di kornea hanya bisa sembuh dengan bedrest. Total bedrest.
Dapat dimengerti jika seketika itu juga yang ada dalam hati dan pikiranku adalah rasa marah. Aku tidak tahu aku marah kepada siapa. yang pasti ini terjadi karena kesalahanku sendiri. Mengapa aku menunda untuk membeli google padahal bulan lalu pelatihku sudah mengalami hal yang sama persis. Mengapa aku melanggar aturan main bahwa kalau sudah di depan tidak boleh menoleh ke belakang!. Ya semua terjadi karena kesalahanku sehingga pantasnya aku marah kepada diriku sendiri. Aku menganggap ini musibah yang harus terjadi dan sebagai kejadian yang berdiri sendiri, tidak ada kaitan dengan apapun diluar diriku dan kesalahanku, kelalaianku. Aku sudah bermain squash selama 16 tahun dan baru kali ini kecelakaan. jadi murni musibah. Namun hati ini belum lega jika aku tidak berbicara dengan seseorang tentang "kemarahan" dalam hati ini. MUNGKIN ada bagian dari hati kecilku yang tidak bisa menerima musibah ini.

Aku bertanya apakah Dewa-dewa pernah marah sehingga memberikan musibah, ataukah seperti yang kupercaya bahwa musibah berdiri sendiri. Menurutnya semua sudah ada di dalam grand-scenario. Dewa-dewa hanya menjalankan grand-scenario tanpa mereka sendiri tahu dan mengerti “reason” nya. Dari sisi manusia, kita tidak percaya pada musibah tetapi percaya karma saja. Karma dikatakan sebagai buah dari perbuatan kita yang dulu-dulu yang mungkin kita sudah lupa. Karma buruk bisa kita hapus dengan membuat karma baru yang lebih baik sehingga neraca karma nya bagus. Aku merasa bahwa aku sudah berusaha dengan sekuatku untuk menjalankan kebaikan-kebaikan yang digariskan norma-norma social maupun agama. Namun disampaikan bahwa karma buruk bukan hanya yang aktif, pasif membiarkan sesuatu dilingkunganku terjadi padahal aku sanggup membereskan seberapapun andilku. Itu termasuk karma buruk. Buah dari karma itu tidak bisa kita kendalikan kapan akan datang. Aku endapakan dalam hati dan pikirianku pemikiran ini.

Lain lagi yang disampaikan orang tuaku dan sahabatku Monika. Mereka menyampaikan bahwa semua yang tejadi ini sudah ada di dalam rencana Tuhan. Tuhan tidak selalu memberikan yang kita minta, bahkan sering yang kita dapatkan adalah sebaliknya. Monika menulis “Aku minta pada Yesus setangkai bunga segar,ia beri aku kaktus berduri.aku minta pada Yesus binatang mungil nan cantik,IA beri aku ulat berbulu.Aku sedih,protes dan kecewa...betapa tidak adilnya ini...namun kemudian.. kaktus itu berbunga,indah bahkan sangat indah,bahkan ulat itupun tumbuh dan berubah menjadi kupu2 yang amat cantik.Itulah jalan Tuhan,indah pada waktunya..Tuhan tidak memberi apa yg kita harapkan,tp IA memberi apa yg kita perlukan.kadang kita sedih dan kecewa, terluka tp jauh diatas segalanya. IA sedang merajut yang terbaik untuk kehidupan kita,................”

Lain lagi SMS dari sahabatku Debbie. Debbie yang selalu cheering-up sahabat-sahabat disekelilingnya. Dalam SMS nya dia mengingatkanku, mungkin ini cara untuk kami “mengurangi flirting” pada akhir tahun ini. Dan dia mendoakan supaya cepat sembuh sehingga dapat “ngeceng” bersama lagi dan tidak salah melirik mana cowok ganteng atau tidak.. Ha ha ha Debbie yang selalu melihat sisi “fun” dari setiap kejadian.
Semua sahabat ini dikirim Tuhan untuk aku. Pada hari natal ini, aku bersyukur bahwa mereka ada di dalam kehidupanku. Terima Kasih Tuhan.